Jumat, 04 Agustus 2017

Belajar Kehidupan



Beberapa hal tidak dapat diubah sama sekali.
Perkataan yang terucap,
Sakit yang membuat hati retak,
Dan waktu yang menciptakan kenangan-kenangan.
Hati, sekali terluka, semua tak kan pernah terasa sama.

Seperti gelas kaca yang pecah,
Atau cermin yang jatuh berkeping-keping,
Kau mungkin menyambung dan merangkainya kembali menjadi bentuk asalnya,
Meski dapat menampung air, gelasnya tak akan bening,
Meski mampu menciptakan refleksi, ia tak akan pernah memperlihatkan bayangan yang sempurna.
Kata-kata yang menyudutkan, prasangka, dan ego untuk mempertahankan diri,
Adalah ruang-ruang yang mengisi di antara kepingan-kepingan itu.

Untuk setiap sudut kehidupan,
Terkadang melepas dan mencoba tak memikirkan apa pun akan lebih baik.
Membuat diri menerima bahwa hidup tidak sempurna,
Tidak setiap kekeliruan bisa dikoreksi.
Tidak setiap hubungan bisa dipertahankan dan diperbaiki,
Tidak setiap kata maaf bisa dimaknai dari dua sisi,
Tidak setiap ketulusan diterima,
Tidak setiap usaha dihargai.
Bosmu mungkin rese,
Rekan kerjamu mungkin penjilat,
Teman-temanmu mungkin hanya suka diajak senang-senang,
Tetanggamu mungkin ahli gosip,
Keluargamu mungkin terlalu bersemangat dan berharap lebih pada kemampuanmu,
Kehidupan memang tidak menjanjikan apa-apa kecuali kematian.

Tapi kau harus bertahan.
Jangan jadi korban.
Ajari dirimu untuk memilih siapa yang berhak kau jaga dalam-dalam di hatimu,
Diam-diam saja karena di luar banyak serigala yang pandai mengendus kecemburuan.
Belajarlah hidup baik-baik saja dengan luka.
Orang lain lebih suka menilai dari pada peduli.
Seni kehidupan adalah membuat diri berdamai dengan kekacauan.
Dan ingat, keluarga adalah sebaik-baiknya pertalian,
Dengan Tuhan sebagai sebaik-baiknya sandaran.

Rabu, 01 Februari 2017

Caramu Mencintai




Kau bilang kau bukan pencinta romantis
Tak paham bahasa puitis tetapi terlalu paham
bagaimana membuatku tersenyum seperti gadis manis
Kita tidak hidup untuk membuat orang lain tahu caramu mencintai
Menghadirkan ketulusan tanpa manipulasi dan bisik-bisik iri
Karena meskipun kita punya sejagad raya udara,
setiap pasang yang jatuh cinta pun merasa itu milik mereka
Yang kita lupa bahwa mencintai bukanlah kompetisi
Kita tidak mencintai untuk menghakimi
Mengintimidasi orang lain untuk berdecak iri
Kita hanya tidak boleh menciptakan imajinasi
Mengelabuhi bahwa yang kita lalui hanyalah detik-detik yang selalu dapat berhenti
Berhenti karena tatapan-tatapan yang menjatuhkan hati
Tidak lagi menambah kebutaan bahwa mencintai hanya sekedar kata hati
Hanya sekedar merayakan hari jadi
Tidak lebih dari menikmati sepasang cangkir kopi
Mencintai lebih membutuhkan banyak energi
Dan menghidupkan bara api tak perlu membohongi diri
Kita akan mencintai dengan cara yang orang lain tak perlu ketahui

Jumat, 18 November 2016

Setiap Hari Adalah


Setiap hari adalah pertanyaan mengenai kapan,
yang kita lihat dari orang
Melihat kehidupan seperti balapan dan takdir yang selalu bisa diperbandingkan
Sementara itu, setiap hari adalah pertanyaan mengapa bagi kita
mengapa tak kunjung datang,
mengapa tak kunjung sampai,
mengapa tak kunjung selesai
Mengapa selalu ada kapan dan mengapa selalu dipertanyakan

Kemudian kita isi hari demi hari dengan kapan yang orang bicarakan
Tanpa sengaja juga bertindak demikian atas seseorang, satu atau dua orang
Menanyakan kapan tanpa pertimbangan
Melepaskan rasa penasaran bahkan pada tahap perkenalan
Tanpa menyadari bahwa kita juga tumbuh ibarat penagih hutang
yang bahwa kita selalu dipandang sebagai pembawa kapan
yang tak punya basa-basi lagi selain kapan
hingga tak bisa bedakan intonasi iba dan tekanan
Awalnya ingin curhat tetapi malah jadi orang jahat
Menumpahkan kekesalan daripada membicarakannya dalam malam-malam kejujuran
Terlalu lelah dan takut habis energi dan tak bisa menghadapi kapan-kapan

Sayang,
Jika kita menanggung beban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak dipertanggungjawabkan
Jangan lari
Tidak ada yang bisa digurui
Pengalaman memang lebih banyak mengajarkan
Merasakan memang lebih banyak melegakan
Akan tetapi,
Tidak semua orang mengerti dan mau tahu
meskipun mereka tak akan berhenti memantau
Tidak peduli peluh macam apa yang kita tunaikan,
Kecanggungan macam apa yang meliputi malam-malam kejujuran
Pun jika mereka tak membuat kita kepikiran,
Jangan menggunakan pertanyaan sebagai pengasingan atas kesakitan dan kerinduan
Carilah jawaban melalui ketenangan dan kesabaran
Pelampiasan tidak menyembuhkan kegundahan
Setiap hari yang akan selesai dengan mengapa 
Bukanlah cambuk untuk kita jadi kuat dan cekatan
Bukan cara untuk kita selalu bisa menjalani kehidupan
Setiap hari adalah kemauan berhenti mempertanyakan

Rabu, 07 September 2016

Jeda



Ku tanya kau ingin apa, kau bilang asal aku suka. Ku kata aku ingin kau yang bahagia saja, kau jawab asal aku bisa tertawa. Sebenarnya, demi siapa kita saling rela? Aku masih belum tahu apakah kau punya alasan serupa. Sejujurnya, aku tak pernah sedekat ini dengan pengorbanan. Dan jikalau pun ku gunakan mata dewasa dalam melihat sedang apa kita, semua tak pernah terasa berat..

Kecuali saat waktu berjalan melambat. Karena kau tahu, bahwa selama bersamamu waktu selalu melesat dengan cepat. Tidak pernah lagi aku hitung mundur untuk segera menanti hari berganti tetapi matahari bergulir begitu saja tanpa kita ketahui. Mabukkah kita?

Dan tahukah pula apa yang membuat semua ini bukan terasa seperti ilusi? Bahwa waktu yang kita lalui tak selamanya cepat. Kita tidak mabuk, Sayang. Sesekali waktu masih berjalan dengan hemat, memberi kita sinyal bahwa rasa senang tak boleh datang terlalu rapat. Asal aku suka dan bisa tertawa, kita rela. Ingatlah, waktu butuh jeda sekalipun ia bahagia melihat hati-hati tanpa praduga.

Selasa, 02 Agustus 2016

DIY Cardinal Jeans Bag



Sometimes, it feels so frustrated to find your old jeans can't be used anymore because your size is bigger now. You're too in love with it, but it's so useless to keep it in your cupboard. I'm telling you I have a great idea to turn it as something new and useful!



At first, I got this inspiration from youtube. My brother actually challenged me to make my own vlog about DIY crafting. But, it's still a new thing for me and I don't get used to recording while working. So, I'm sorry guys I'll just show you some parts of my job in pictures. If you want to make your DIY bag, check out this channel for the full tutorial.

All the thing you need is everything you can get from your old stuff. Here they are:


  • An old jeans
  • Zipper
  • Patterned fabric
  • Some hooks
  • A thread
Make sure your sewing machine is fine. You need it in a good condition because you'll sew some thick pieces of fabrics.



Behind the scene of the cool bag cardinal jeans.

Since I got married, my hubby suggested me not to use jeans to hang out. But, sometimes I still couldn't do it because I don't have many fabrics trousers. However, there'll always some time when you still can't use a beautiful skirt or gamis. So, I consider begin to collect my fabric trousers.

Since then, I thought that my jeans would be 'aged' because it'll never be used again. Using jeans or not it's literally a choice, I admit. But, for me, it looks quite better and polite if I don't. So, i think no need to critize nor debate.



This old jeans is my hubby's cause honestly, I just still can't move on from mine. It's my first time to cut a very fine cloth into pieces.



I spent 5 hours to make my own bag. But, the result is hardly fantastic! In the inner side, I add some pockets to carry handphone, make up, or anything small. It's a customize overall.



I suggested to use a patterned fabric for the inner and the combination, so, your bag will look great and stunning. Since I moved to my hubby's house this early year, I didn't bring enough stuff of mine. My class will start this month and I don't have any bag to go to campus. Can you guess how glad I am for making this? It's your signature there that nobody would never have the same as yours!

Just don't loose your patience to sew! Sometimes, people who don't even try to touch a sewing machine would think if sewing is really difficult and boring. But, if it's your passion, I'm sure you'll feel challenged every time you see a great new thing about DIY project. Grow your creativity!

Selasa, 26 Juli 2016

Siapkah Kita Untuk Menikah?






Mereka yang memiliki keinginan untuk memenuhi hakikat hidupnya sebagai manusia sepenuhnya, akan tiba saatnya untuk memutuskan menemukan pasangan hidupnya. Pertanyaannya mungkin bukan lagi mengenai, "Siapkah kita untuk menikah?" tetapi bagaimana "Mempersiapkan diri untuk menikah?"

Seorang perempuan 22 tahun, fresh graduate jurusan Ilmu Hubungan Internasional bertemu dengan calon suaminya yang berusia 25 tahun, seorang pegawai swasta di salah satu PTN Kota Magelang. Bagaimana terbersit kata "menikah" di benak orang-orang yang terhitung masih muda ini?

"Jodoh itu mungkin dekat dan berputar-putar di sekitarmu tanpa kau menyadarinya."

Kami berasal dari almamater yang sama, Universitas Airlangga. Mungkin pepatah yang mengatakan bahwa jodoh kita sesungguhnya dekat dengan kita atau berputar-putar di sekeliling kita tanpa kita sadari benar. Mungkin saja.

Dia adalah kakak angkatan kuliahku yang hanya sekedar kenal karena pernah mengambil mata kuliah yang sama saat semester 5. Saat itu, tidak sedikit pun terpikirkan olehku bahwa aku akan menjadi lebih dekat dengan orang ini.

Dia yang begitu pendiam dan cenderung 'tidak terlihat' sedangkan aku yang termasuk sebagai mahasiswa cukup aktif yang mengikuti beberapa organisasi baik di dalam maupun di luar kampus memiliki dunia yang berbeda. Teringat kata-kata salah satu dosenku, "Blind spot bisa jadi merupakan peluang atau pilihan terbaik yang kita miliki." Tak pernahkah aku berpikir tentang siapakah blind spot-ku? Tentu saja pernah. Akan tetapi, menurutmu, bagaimana mungkin aku bisa menemukan blind spot?

"Persamaan akan menjadi awal yang menyatukan tetapi jangan lengah, perbedaan akan lebih banyak ditemukan kemudian di dalam pernikahan yang sesungguhnya."

Saat itu, aku sedang berada di akhir semester 6 dan dia baru saja lulus sidang skripsi bahkan belum diwisuda dan memperoleh pekerjaan tetap.

"Aku ingin menikahimu," sebuah kata yang tegas dan jelas ia rangkai begitu dalam menelusup ke telingaku. Wajahku memerah semerah kerudung yang kukenakan, begitu katanya setelah kami menikah dan menceritakan ulang kenangan-kenangan pertemuan kami.

"Kau bercanda, Mas?" sontak aku menutup wajahku dengan malu.

"Aku serius, aku ingin menikahimu," jawabnya.

"Tapi.. tapi, aku sama sekali tidak mengenalmu. Begitu pun dirimu, juga tidak tahu apapun tentang aku," aku tergagap.

"Pikirkanlah. Keseriusanku tidak tergoyahkan oleh hal-hal yang kau ungkapkan." jawabnya telak. Membuatku berpikir sejuta kali lagi untuk menjawabnya. Antara bingung harus berkata apa dan mempercayai bahwa pagi ini aku belum bangun dari mimpi.

Tak pernah kuduga bahwa hari-hariku setelah ajakannya untuk menikah denganku tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Pada awalnya aku kegirangan bahwa ternyata di balik punggungku ada seseorang yang memandangku dari kejauhan. Namun, di sisi lain aku pun harus bertanggung jawab atas apa yang telah aku ketahui darinya. Aku mulai kehilangan fokus dan gundah. Orang tuaku bilang bahwa aku harus lulus dulu sebelum menikah. Mereka paling tahu bahwa anak perempuannya paling tidak bisa memikirkan hal-hal besar secara bercabang. Apa yang harus ku lakukan?


Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW bersabda:

"Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia."

(Muttafaq Alaihi dan Imam Lima)

Mitsaqan Ghalidza atau disebut perjanjian yang amat kokoh, yaitu pernikahan. Ya, bagi kami pernikahan merupakan sebuah janji paling suci yang ada di dunia ini. Kata mitsaqan ghalidza bahkan hanya disebutkan 4 kali di dalam Al-Qur'an. Menunjukkan bahwa maknanya begitu dalam dan kuat dalam kehidupan manusia. Upaya untuk melakukannya semata-mata dilakukan karena Allah.

Mengukur Diri

Bukan masalah kami sudah mapan atau belum, siap atau belum. Akan tetapi, bagaimana upaya kami dalam menjemputnya. Sejujurnya, jika menunggu aku lulus dahulu bisa dikatakan pihakkulah yang menunda adanya niatan suci ini. Namun, akulah yang menakar kemampuanku sendiri. Sampai batas itulah aku mampu untuk menjemputnya, insyaallah. Dan dirinya pulalah yang dapat menakar kemampuan dirinya sendiri, mengapa dia berani mengutarakan keinginan untuk menikahiku padahal dari segi finansial dia sama sekali belum mapan? Aku tidak tahu. Lillahi ta'ala.

Di antara keempat kategori perempuan itu, setidaknya aku pasti berada di antaranya walaupun aku tidak tahu dan tidak mau menebak-nebak aku yang mana. Kami sepakat bahwa jika niat yang baik akan diberi jalan oleh Allah, jika tidak maka kami akan dijauhkan dari segala hal yang lebih banyak membawa mudharat.

Menyamakan Visi

Kami kemudian banyak bertukar pikiran mengenai pandangan tentang masa depan. Misalnya, bagaimana pandangan tentang seorang istri yang menjadi wanita karir, bagaimana jika seorang istri menempuh pendidikan lebih tinggi daripada suami dan siapa yang akan menanggung biayanya, bagaimana cara terbaik dalam mendidik anak-anak kelak, bagaimana menjalin hubungan yang tetap erat antara anak (kami) dengan orang tua, di mana tempat yang tepat untuk ditinggali setelah menikah, kapan saja waktu yang harus diluangkan untuk saling berkunjung ke rumah orang tua, bagaimana mengelola uang bulanan, dan sebagainya.

Dari semua hal itu, secara garis besar kami memiliki pandangan yang sama. Yang paling melegakan bagiku adalah bahwa jika dengan segera setelah aku lulus dia menikahiku, aku diijinkan untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang S-2. Entah dengan cara apa dan kapan waktunya, yang jelas menurutnya, tidak ada yang salah dengan menuntut pendidikan tinggi bagi seorang perempuan bahkan lebih tinggi dari suaminya. Hal-hal teknis tidak menjadi kendala berarti selama hal-hal prinsip telah kami pegang dengan kokoh berlandaskan agama.

Jika telah dekat dengan perencanaan pernikahan, sebaiknya tanyakanlah banyak-banyak hal-hal yang mungkin akan dijumpai dalam pernikahan! Ingat, kalian akan hidup bersama selamanya. Namun, jangan bertanya tentang hal-hal tidak wajar dan di luar batas.

Menyiapkan Mental

Pernikahan bukanlah hal sederhana. Kalian harus siap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Setiap detail kehidupan ketika lajang bisa jadi akan sangat berbeda ketika sudah menikah nanti. Cobalah untuk memikirkan mulai dari hal-hal kecil.

Misalnya, setelah menikah mungkin waktu untuk hang-out bersama sahabat akan berkurang tetapi akan lebih sering di rumah bersama pasangan. Setelah menikah mungkin akan lebih sering bangun pagi dan saling memperhatikan keperluan masing-masing pasangan ketimbang hanya menyiapkan sarapan sekenanya atau menyetrika baju sendiri secara dadakan. Setelah menikah mungkin akan hidup jauh dari orang tua dan tinggal di lingkungan yang sama sekali baru.

Jangan takut. Ini bukan untuk membuat mundur niat untuk menikah. Akan tetapi, ada baiknya memikirkan ini, karena sesiap apapun juga seseorang yang akan menikah, akan selalu ada hal-hal yang terjadi di luar dugaan.Setidaknya dengan mulai memperkirakan hal-hal kecil akan membantu alam bawah sadar untuk lebih cepat beradaptasi kelak.

Kesiapan Finansial

Kemampuan finansial menjadi salah satu tolok ukur bagaimana kehidupan pernikahan akan dapat berlangsung dengan baik. Penulis katakan salah satu karena memang bukan satu-satunya. Akan menjadi lebih ringan untuk perempuan karena ia tidak bertanggung jawab atas nafkah. Akan tetapi akan sangat berbeda dengan laki-laki karena ia adalah calon kepala keluarga.

Samakan pemahaman kalian mengenai siapa yang wajib memenuhi kebutuhan nafkah lahir di dalam keluarga. Pastikan bahwa pihak laki-laki dapat menunjukkan tanggung jawabnya kelak sebagai kepala keluarga. Tidak menutup kemungkinan bahwa pihak perempuan akhirnya juga dapat menjadi sumber penghasilan keluarga.

Di Indonesia, Jawa khususnya, kesiapan finansial yang biasanya menjadi tanggung jawab pihak perempuan adalah pesta pernikahan atau resepsi. Namun, hal tersebut bukan lagi menjadi sesuatu yang rigid dan tabu lagi untuk dibicarakan secara terang-terangan. Kedua belah pihak dapat mendiskusikannya dengan lebih terbuka.

Ada baiknya hal tersebut dibicarakan dalam-dalam karena tidak ada gunanya pesta yang begitu megah jika setelah menikah pasangan pengantin baru tersebut justru harus dikejar hutang. Menikah bukanlah untuk kebahagiaan sehari atau dua hari tetapi mencari kebahagiaan bersama-sama selamanya.


PS: Penulis juga akan me-review sebuah buku tentang pernikahan. Semoga menginspirasi, ya!

Senin, 25 Juli 2016

Kasih Sayang Perempuan, Kasih Sang Ibu, Kasih Tanpa Batas

Maryam Bunda Suci Sang Nabi (2014) karya Sibel Eraslan

Pembaca pasti bertanya-tanya, mengapa gambar sekeranjang buah yang menjadi cover di novel ini? Tentu saja, karena Maryam dapat 'menurunkan' makanan dari langit! Bagaimana bisa? Simak sinopsis bukunya dalam review ini.

Maryam Bunda Suci Sang Nabi merupakan novel yang diterjemahkan dari novelis terkenal asal Turki, Sibel Eraslan. Dalam versi Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Kaysa Media, novel Maryam terbit sebagai seri terakhir dari seri 4 wanita penghuni surga; Khadijah, Fatimah, Asiyah, dan Maryam. Kisah Maryam dituturkan secara fiksional oleh Merzangus kepada istri wali Romawi yang memimpin sidang penyaliban Nabi Isa.

Bagian Kaf
Hanna, istri Imran dan Al-Isya, istri Zakaria merupakan dua bersaudara yang sama-sama dimakan usia dan malang nasibnya merindukan seorang anak. Saat itu, perpecahan di antara para rahib Al-Quds semakin meruncing. Mayoritas rahib memihak pada wali Roma untuk mendapatkan kepentingan politik. Sudah dua tahun perempuan Yahudi dilarang untuk belajar baca-tulis dan pergi ke masjid.